BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
dalam rangka memperbaiki hidup manusia, perlu dimulai sejak dini yaitu sejak
masih berada dalam kandungan (GBHN, 1996)
Dewasa ini profesi keperawatan dihadapkan pada persiapan memasuki era
globalisasi dimana perkembangan yang pesat dibidang kedokteran dan keperawatan.
Profesi keperawatan semakin dituntut untuk mampu memberi pelayanan keperawatan
di segala bidang, termasuk keperawatan maternitas, untuk menurunkan angka
kelahiran dan kematian ibu serta bayi. Di Indonesia angka kematian ibu (AKI)
adalah antara 307 per 100 ribu kelahiran hidup, dan merupakan peringkat pertama
di Asia Tenggara. Angka kematian ibu disebabkan oleh beberapa faktor antara
lain : perdarahan, infeksi, dan toksemia gravidarum. Dari ketiga faktor
tersebut perdarahan merupakan yang terbanyak menyebabkan kematian ibu.
Perdarahan dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain atonia uteria, robekan
serviks atau kelainan implantasi placenta (Sastro .2000)
Sejak usia kehamilan 20 minggu perdarahan kurang lebih terjadi 3 % sampai 4%
pada wanita hamil. Penyebab yang paling sering adalah placenta previa dan
solusio placenta yang berpotensi fatal bagi ibu maupun janinnya (Scott, Dkk,
2002)
Dari 167 kelahiran placenta previa lebih sering terjadi pada multipara.
Placenta previa total yang menghalangi jalan lahir pada anak hidup tidak bisa
lahir normal, tindakan yang dilakukan adalah operasi seksio caesarea.
Placenta previa totalis memerlukan tindakan seksio sesarea, sedangkan seksio
sesarea memiliki komplikasi emboli air ketuban yang dapat terjadi selama
tindakan operasi yang mengakibatkan henti jantung dan henti nafas secara
tiba-tiba. Komplikasi lain yang terjadi
sesaat setelah operasi seksio sesarea adalah infeksi yang banyak disebut
sebagai morbiditas pasca operasi (Adjie, 2005)
Berdasarkan data statistik rekam medik Rumah Sakit Bethesda Tomohon, pada tahun
2005 yang melahirkan secara seksio sesarea adalah 205 orang. Dan yang mengalami
indikasi dengan placenta previa adalah 52 orang.
Berdasarkan uraian di atas penulis merasa tertarik untuk membuat karya tulis
ilmiah dengan judul “ Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Post Seksio
Sesarea Atas Indikasi Placenta Previa Totalis”.
B. Tujuan
Penulisan
Untuk meningkatkan asuhan keperawatan pada
penderita dengan Post Seksio Sesarea atas indikasi placenta previa totalis”
C. Manfaat
Penulisan
1.
Institusi Rumah Sakit
Dapat memberikan masukan
dan acuan dalam perawatan asuhan keperawatan terutama pada pasien dengan post
seksio sesarea dengan indikasi placenta previa totalis.
2. Institusi
Pendidikan
Dengan penulisan karya
tulis ini diharapkan menjadi masukan dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan khusus pada pasien dengan post
seksio sesarea atas indikasi placenta previa totalis
3. Peneliti
Dapat menembah pengetahuan dan
wawasan yang lebih luas mengenai pelaksanaan asuhan keperawatan terutama pada
pasien dengan post seksio sesarea atas indikasi placenta previa totalis
D. Metode
Penulisan
Adapun metode yang penulis gunakan
dalam penulisan karya tulis ini adalah melalui langkah-langkah
1.
Studi Kepustakaan
Menggunakan
buku-buku yang berhubungan dengan post seksio sesarea atas indikasi placenta
previa totalis
2. Studi Kasus
Melaksanakan
asuhan keperawatan pada pasien post seksio sesarea atas indikasi placenta
previa totalis.
3. Studi Dokumentasi
Mempelajari
status pasien berupa catatan tentang keadaan pasien yang dibuat oleh dokter,
perawat dan petugas kesehatan lainnya
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.
Konsep Dasar Placenta Previa
1. Pengertian
Placenta previa adalah
placenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus, sehingga dapat
menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Mansjoer, dkk, 2002)
Placenta previa totalis
adalah apabila setiap bagian placenta secara totalis menutupi osteum uteri
internum atau seluruh ostium uteri internum tertutup ketika serviks berdilatasi
lengkap (Bobak, dkk 2004)
2. Etiologi
Penyebab spesifik tidak
diketahui pasti, namun placenta previa meningkat pada grande multipara,
primigravida tua, bekas seksio sesarea, bekas aborsi, kelainan janin dan
leiomioma uteri, ovulasi terlambat, kehamilan ganda (Masjoer, dkk, 2002)
3. Patofisiologi
Perdarahan antepartum
akibat placenta previa terjadi sejak kehamilan 20 minggu saat segmen bawah
uterus telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis. Umumnya terjadi pada
trimester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan,
pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks menyebabkan sinus uterus
robek Karena lepasnya placenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus
marginalis dari placenta. Perdarahan tak dapat dihindarkan karena
ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada
placenta letak normal
4. Perjalanan Klinis
Gejala perdarahan awal
placenta previa biasanya muncul, sebagai perdarahan bercak atau ringan,
berhenti secara spontan dan terjadi berulang-ulang, sebelum partum. Gejala ini kadang-kadang
terjadi waktu tidur dan tidak jarang juga pendarahan pervagina terjadi pada
saat inpartu. Penderita dengan placenta previa jika di palpasi bagian depan
tinggi dan jaringan placenta teraba. Dengan auskultasi denyut jantung janin
terdengar. Di bawah ini perdarahan placenta previa pada trimester ketiga
berdasarkan usia kehamilan :
a.
Perdarahan akibat placenta previa bisa terjadi sejak kehamilan 20 minggu
b.
Kehilangan darah pada perdarahan pertama jarang sekali fatal
c.
Rata-rata usia kehamilan waktu didiagnosa 32 minggu
d. Sepertiga
klien memeriksakan diri setelah 36 minggu, disertai dengan peningkatan resiko eongenital,
dan Intra Uteri Grouth Retardation (IUGR)
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang sebagai data untuk menunjang diagnosa placenta previa
secara pasti dapat dilakukan pemeriksaan :
a. USG untuk diagnosa pasti, yaitu menentukan letak placenta
b. Pemeriksaan darah : hemoglobin, hematokrit.
6. Komplikasi
Pada ibu dapat terjadi perdarahan sehingga syok akibat perdarahan, aremia
karena perdarahan plasentitis dan endometris pasca persalinan. Pada janin
biasanya terjadi persalinan prematur dan komplikasinya seperti asfiksia berat.
7.
Penatalaksanaan
Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi sebelum dirujuk,
anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap kekiri, tidak melakukan
sanggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut (mis. Batuk, mengedan
karena sulit buang air besar)
Dalam melakukan rujukan
penderita placenta previa sebaiknya dilengkapi dengan :
* Pemasangan infus untuk mengimbangi perdarahan
* Sedapat mungkin diantar oleh petugas
* Dipersiapkan donor darah untuk transfusi darah.
B.
Konsep Dasar Seksio Sesarea
1. Pengertian seksio sesarea
Seksio Sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada
dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina ; atau Seksio Sesarea
adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim.
Post seksio sesarea adalah keadaan setelah dilakukan seksio sesarea. Istilah
seksio sesarea berasal dari kata latin caedare yang artinya memotong.
Pengertian ini semula dijumpai dalam roman law (lexregia) emperow es law (lex
sesarea) yaitu undang-undang yang menghendaki supaya janin dalam kandungan
ibu-ibu yang meninggal harus dikeluarkan dari dalam rahim.
2.
Indikasi
Pada ibu : Placenta previa, panggul sempit,
disproporsi sefalo-pelvix yaitu ketidakseimbangan antara ukuran kepala dengan
panggul, ruptura uteri yang mengancam, partus lama (prolongedlabor), partus tak
maju (obstructed labor) distosia serviks,
preeklamsi
Pada janin : Letak lintang, letak bokong, gawat janin (presentasi
dahi dan muka, (letak defleksi) bila reposisi dengan cara-cara lain tidak
berhasil.
3. Komplikasi
Pada ibu
a. Infeksi
puerperal (nifas) ringan dengan kenaikan suhu beberapa hari saja sedang
kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung.
Berat dengan peritonitis sepsis dan illeus paralitik, hal ini sering kita temui
pada partus terlantar dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intraportal
karena ketuban yang pecah terlalu lama ; penanganannya adalah dengan pemberian
cairan elektrolit dan antibiotika yang adekuat dan tepat
b.
Perdarahan banyak timbul jika cabang-cabang arteri uterina terbuka atau karena
atonia uteri.
c. Luka
kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih
d. Suatu
kompliksi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya parut pada dinding
uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri.
Pada janin
Keadaan janin tergantung
dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan seksio sesarea (Mochtar ,1998)
4. Perawatan post seksio
sesarea
a. Tempat Perawatan
Setelah tindakan dikamar
operasi selesai, penderita dipindahkan dalam kamar rawat khusus (recovery room)
yang dilengkapi dengan alat pendingin kamar udara selama beberapa hari. bila
pasca bedah keadaan penderita gawat, segera pindahkan ke unit perawatan darurat
(intensive care unit) untuk perawatan bersama-sama dengan unit anastesi, karena
disini perawatan untuk menyelamatkan penderita lebih lengkap.
Setelah beberapa hari
dirawat di dalam kamar rawat khusus atau pada unit perawatan darurat dan
keadaan penderita mulai pulih, barulah dipindahkan ketempat penderita semulah
dirawat. disini perawatan luka dan pengukuran tanda-tanda vital penderita
dilanjutkan seperti biasa.
b. Mobilisasi
Mobilisasi segera tahap
demi tahap sangat berguna untuk membantu jalannya penyembuhan penderita.
kemajuan mobilisasi bergantung pula pada jenis-jenis operasi yang dilakukan dan
komplikasi yang mungkin dijumpai. secara psikologis hal ini memberikan pula
kepercayaan pada si sakit bahwa dia mulai sembuh. perubahan gerakan dan posisi
ini harus diterangkan kepada penderita atau keluarga yang menungguinya, yaitu :
1. Miring kekiri
dan kekanan sudah dapat dimulai sejak 6-10 jam setelah penderita sadar
2. Latihan
pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur terlentang sedini mungkin
setelah sadar
3. Pada hari kedua
penderita dapat duduk selama 5 menit dan dimintah untuk bernafas dalam, lalu
menghembuskannya disertai batuk-batuk kecil
4. Posisi tidur
terlentang dirubah menjadi setengah duduk (semi fowler)
5. Secara
berturut-turut, hari demi hari penderita dianjurkan belajar duduk selama
sehari.
6. Belajar
berjalan dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke 3 sampai 5 pasca bedah.
Mobilisasi berguna untuk
mencegah terjadi trombosis dan emboli. sebaliknya, bila terlalu dini melakukan
mobilisasi dapat mempengaruhi penyembuhan luka operasi. sehingga mobilisasi
secara teratur dan bertahap serta diikuti dengan istirahat adalah yang paling
dianjurkan.
c. Perawatan Rutin
Setelah selesai operasi,
dokter bedah dan anastesi telah membuat rencana pemeriksaan rutin (check-up)
bagi penderita pasca bedah yang diteruskan kepada dokter atau paramedik jaga
baik dikamar rawat khusus maupun setelah tiba diruangan atau kamar tempat
penderita dirawat.
Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam pemeriksaan dan pengukuran diukur adalah :
* Tekanan darah
* Jumlah nadi per menit
* Jumlah cairan yang masuk dan keluar (urine)
* Suhu badan
`
* Pemeriksaan lainnya menurut jenis operasi dan kasus
Pemeriksaan dan pengukuran tersebut sekurang-kurangnya dilakukan setiap 4 jam
sekali dan dicatat dalam status penderita.
d. Diit
Oleh karena kemajuan
yang pesat dalam bidang anastesi, keluhan mual dan muntah pasca bedah sekarang
ini sudah sangat berkurang bahkan jarang ditemukan, kecuali peristaltik usus
kurang baik (paralysis) dan perut menjadi kembung.
Ada beberapa hal yang
harus diperhatikan :
1.
Pemberian cairan per infus biasanya dihentikan setelah penderita flatus
2. Pemberian
sedikit minum, diberikan pada 6-10 jam pasca bedah berupa air putih
3. Berikan makanan
bubur saring
4. Minum air buah
5. Makan bubur
6. Makanan biasa
7. Setelah bisa
minum pada hari pertama, obat-obatan sudah boleh diberikan secara peroral.
(Doenges , 1998)
5. Nasehat post seksio sesarea
(Mochtar, 1998)
Setelah dilakukan seksio
sesarea ada beberapa nasehat yang harus diberikan kepada ibu. Hal ini
dimaksudkan agar untuk mengantisipasi komplikasi dan efek samping dari tindakan
seksio sesarea. Adapun nasehat yang harus diberikan yaitu :
a.
Menganjurkan jangan hamil selama kurang lebih 1 tahun dengan memakai
kontrasepsi
b. Kehamilan
berikutnya hendaknya diawasi dengan antenatal yang baik
c.
Dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit yang besar
d. Apakah
persalinan berikutnya harus dengan seksio sesarea tergantung dari indikasi
seksio sesarea dan keadaan pada kehamilan berikutnya.
C.
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengertian
Asuhan keperawatan
adalah suatu proses pemecahan masalah yang dinamis dalam usaha memperbaiki atau
memelihara pasien sampai ketahap optimum melalui pendekatan yang sistimatis
untuk mengenal dan membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus pasien (Nasrul,
1999)
2. Proses Keperawatan
Proses keperawatan
terdiri dari 5 tahap, yaitu :
a. Pengkajian
Pengkajian
adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk
mengumpulkan informasi atau data-data tentang pasien agar dapat
mengidentifikasi, mengenal masalah, kebutuhan, kesehatan dan keperawatan
pasien, baik fisik, mental sosial, dan lingkungan (Effendy, 1999)
Pengelompokan Data
Data Subjektif
* Adanya keragu-raguan menggendong bayi
* Mengungkapkan masalah/kesulitan koping terhadap situasi
* Melepaskan nyeri insisi
* Nyeri payudara
* Tidak dapat tidur
* Sakit kepala
* Tidak dapat beraktivitas secara mandiri
Data Objektif
* Keragu-raguan berinteraksi dengan bayi
* Abdomen kembung
* Nyeri tekan payudara
* Ekspresi wajah meringis
* Tampak meringis
* ADL dibantu oleh perawat dan keluarga
Analisa
Data
|
No
|
Data
|
Penyebab
|
Masalah
|
|
1
|
Data Subjektif
- Adanya keragu-raguan menggendong
bayi
- Mengungkapkan masalah/ kesulitan
koping terhadap situasi
Data Objektif
- Keragu-raguan berinteraksi
dengan bayi
|
- Perkembangan
transisi/peningkatan
- Krisis situasi
|
Perubahan ikatan proses keluarga
|
|
2
|
Data Subjektif
- Melaporkan nyeri insisi
- Sakit kepala
- Nyeri payudara
Do
- Nyeri tekan payudara
- Ekspresi wajah meringis
|
- Trauma pembedahan
- Efek-efek anastesia
- Distensi kandung
kemih/abdomen
|
Nyeri
|
|
3
|
Data Subjektif : -
Data Objektif : -
|
- Trauma jaringan kulit
rusak
- Penurunan Hb
- Prosedur invasif
|
Resiko tinggi terhadap infeksi
|
|
4
|
Data Subjektif
- Tidak dapat beraktivitas
secara mandiri
- ADL dibantu oleh perawat
|
- Proses anastesi
- Insisi bedah
|
Intoleransi aktivitas
|
|
5
|
Data Subjektif : -
Data Objektif : -
|
- Manipulasi atau trauma
sekunder terhadap seksio
|
Resiko tinggi terhadap perubahan pola
eliminasi
|
b. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status
kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana
perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasikan dan memberikan
intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi,
mencegah dan merubah (Nursalam, 2001)
Diagnosa
keperawatan yang diperoleh berdasarkan teori pada klien dengan post seksio
sesarea adalah :
a.
Perubahan ikatan proses keluarga berhubungan dengan peningkatan anggota
keluarga dan krisis situasi (mis. Intervensi pembedahan)
b.
Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan, efek-efek anastesi, efek-efek
hormonal, distensi, kandung kemih/abdomen
c.
Resiko tinggi terhadap infeksi perhubungan dengan trauma jaringan
d.
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan proses anastesi, insisi bedah dan
nyeri
e.
Resiko tinggi terhadap perubahan pola eliminasi perkemihan atau konstipasi yang
berhubungan dengan manipulasi dan atau trauma sekunder terhadap seksio sesarea
c. Perencanaan
Meliputi
pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi
masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini
dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana
dokumentasi (Nursalam 2001)
Langkah-langkah
dalam perencanaan keperawatan adalah menetapkan prioritas masalah, merumuskan
tujuan keperawatan yang dicapai serta menentukan rencana tindakan keperawatan.
1. Diagnosa
Keperawatan
a.
Tujuan : kesulitan koping terhadap perubahan situasi tidak terjadi
b. Kriteria
hasil : menggendong bayi, bila kondisi ibu dan neonatus memungkinkan,
mendemonstrasikan prilaku kedekatan dan ikatan yang tepat mulai secara aktif
mengikuti tugas perawatan bayi baru lahir dengan tepat
c.
Intervensi
1. Observasi dan catat interaksi keluarga dan bayi
Rasional
Kontak
mata dengan mata, penggunaan posisi wajah, berbicara pada suara nada
tinggi, dan menggendong bayi dengan dekat dihubungkan dengan kedekatan pada
budaya Amerika. Pada kontak pertama dengan bayi, ibu menunjukkan pola progresif
dari prilaku dengan cara menggunakan ujung jari, pada awalnya untuk menggali
ekstremitas bayi dan berlanjut pada penggunaan telapak tangan sebelum mendekap
bayi dengan seluruh tangan dan lengan.
2. Diskusikan kebutuhan
kemajuan dan sifat interaksi yang lazim dari ikatan
Rasional
Membantu klien/pasangan
memahami makna dan pentingnya proses dan memberikan bahwa perbedaan
diperkirakan
3. Perhatikan
pengungkapan perilaku yang menunjukkan kekecewaan atau kurang minat/ kedekatan
Rasional
Kedatangan
anggota keluarga baru, bahkan bila diinginkan dan diantisipasi, menciptakan
periode sementara dari disekuilibrium, memerlukan penyatuan anak baru ke dalam
keluarga yang ada.
4. Perhatikan lingkungan
sekitar kelahiran sesarea, kebanggaan diri orang tua dan persepsi tentang pengalaman
kelahiran, reaksi awal mereka terhadap bayi, dan partisipasi mereka terhadap
pengalaman kelahiran.
Rasional
Orang
tua perlu bekerja melalui hal-hal bermakan pada kejadian penuh stress seputar
kelahiran anak dan orientasikan mereka sendiri terhadap realita sebelum mereka
dapat memfokuskan pada bayi. Efek-efek anastesi, ansietas, dan nyeri dapat
mengubah kemampuan persepsi klien selama dan setelah operasi.
5
Anjurkan dan bantu dalam menyusui
Rasional
Kontak
awal mempunyai efek positif pada durasi menyusui ; kontak kulit dengan kulit
dan mulainya tugas-tugas ibu meningkatkan ikatan. Beberapa budaya (misalnya,
Hispanik, Navajo, Filipino, Vietnam) menolak menyusui sampai aliran susu
terjadi.
6
Berikan informasi sesuai kebutuhan
Rasional
Membantu
pasangan untuk memproses dan mengevaluasi informasi yang diperlukan khususnya
bila periode pengenalan awal telah lambat.
2. Diagnosa II
a.
Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang
b. Kriteria
hasil : Mengidentifikasikan dan menggunakan intervensi untuk mengatasi nyeri
mengungkapkan berkurangnya nyeri, tampak rileks, mampu tidur/istirahat dengan
tepat
c.
Intervensi :
1
Temukan karakteristik dan lokasi ketidaknyamanan
Rasional
Klien
mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan ketidaknyamanan secara
langsung. Membedakan karakteristik khusus dari nyeri membantu membedakan nyeri
pasca operasi dari terjadinya komplikasi (misalnya retensi kandung kemih atau
infeksi).
2
Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai ketidaknyamanan dan
intervensi yang tepat
Rasional
Meningkatkan
pemecahan masalah, membantu mengurangi nyeri berkenaan dengan ansietas dan
ketakutan karena ketidaktahuan dan memberikan rasa kontrol.
3
Evaluasi tekanan darah dan nadi, perhatikan perubahan
Rasional
Pada
banyak klien, nyeri dapat menyebabkan gelisah serta tekanan darah dan nadi
meningkat.
4
Perhatikan nyeri tekan, uterus dan adanya karakteristik nyeri penyerta
Rasional
Selama
12 jam pertam pasca partum, kontraksi uterus kuat dan teratur, dan ini
berlanjut selama 2-3 hari berikutnya, meskipun frekuensi dan intensitasnya
dikurangi. Faktor-faktor yang memperberat nyeri penyerta meliputi multipara,
overdistensi uterus, menyusui dan pemberian preparat ergot dan oksitosin.
5
Ubah posisi klien
Rasional
Merilekskan
otot, dan mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri. Meningkatkan kenyamanan,
dan menurunkan distraksi, tidak menyenangkan, meningkatkan rasa sejahtera.
6
Lakukan latihan napas dalam
Rasional
Nafas
dalam meningkatkan upaya pernapasan. Perbebatan menurunkan regangan dan
ketegangan area insisi dan mengurangi nyeri and ketidaknyamanan berkenaan
dengan gerakan otot abdomen. Batuk diindikasikan bila sekresi atau Ronchi
terdengar.
7
Anjurkan penggunaan posisi rekumber
Rasional
Memungkinkan
gas meningkat dari kolon desenden kesigmoid memudahkan pengeluaran
8
Palpasi kandung kemih, perhatikan adanya rasa penuh
Rasional
Kembalinya
fungsi kandung kemih normal memerlukan 4-7 hari, dan overdistensi kandung kemih
menciptakan perasaan dorongan dan ketidaknyamanan.
9
Evaluasi terhadap sakit kepala, khususnya setelah anastesi subaraknoid
Rasional
Kebocoran
cairan serebrospinal (CSS) melalui duramater ke dalam ruang ekstradural
menurunkan volume yang diperlukan untuk menyokong volume yang diperlukan
jaringan otot, menyebabkan batang otak turun ke dasar tengkorak bila klien pada
posisi tegak. HKK dapat mengakibatkan edema serebral.
3. Diagnosa III
a.
Tujuan : Luka tidak terjadi infeksi
b. Kriteria
hasil : Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk menurunkan resiko dan
meningkatkan penyembuhan.
c.
Intervensi
1
Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan pembuangan
pengalas kotoran, pembalut, dan linen terkontaminasi dengan tepat
Rasional
Membantu
mencegah atau membatasi penyebaran infeksi
2
Tinjauan ulang Hb/Ht prenatal : perhatikan adanya kondisi yang
mempredisposisikan klien pada infeksi pasca operasi
Rasional
Anemia,
diabetes dan persalinan yang lama (khususnya pada pecahnya ketuban) sebelum
kelahiran sesarea meningkatkan resiko infeksi perlambatan penyembuhan
3
Kaji status nutrien pasien
Rasional
Klien
yang berat badannya 20 % dibawah berat normal, atau yang anemia atau
malnutrisi, lebih rentan terhadap infeksi pasca partum dan dapat memerlukan
diet khusus
4
Dorong, masukkan cairan oral
Rasional
Mencegah
dehidrasi, memaksimalkan volume sirkulasi dan aliran urine. Protein dan vitamin
C diperlukan untuk pembentukan kolagen ; bersih diperlukan untuk sintesis H
5
Perhatikan jumlah dan bau rabas lokhia atau perubahan pada kemajuan normal dari
rubra menjadi serosa.
Rasional
Tanda-tanda
ini menandakan infeksi luka, biasanya disebabkan oleh streptococcus,
stapilococcus atau species pseudomonas
6
Infeksi sekitar infus IV, terhadap tanda eritema atau nyeri tekan
4. Diagnosa IV
a.
Tujuan : Kebutuhan aktivitas terpenuhi
b. Kriteria
hasil : Mengungkapkan kemampuan beraktivitas secara mandiri
c.
Intervensi
1
Perhatikan jenis anastesi yang diberikan dan waktu pemulihan
Rasional
Waktu
pemulihan anastesi umum berbeda. Perubahan posisi dan perputaran biasa
diindikasikan setiap 2 jam selama 24 jam pertama dari istirahat tempat tidur
yang dianjurkan. Pemulihan anastesi spinal mengharuskan klien untuk berbaring
datar ditempat tidur dalam posisi terlentang atau miring selama 8 jam hingga 12
jam.
2
Atur tempat tidur dalam posisi semi fowler
Rasional
Pemberian
bantuan selama pengobatan dengan mengurangi rasa sakit dan kekuatiran
3
Anjurkan untuk melakukan gerakan kaki pada saat tidur
Rasional
Statis
darah dalam pembuluh peripheral memungkinkan klien untuk tromboplebitis.
4
Bantu klien dengan ambulasi progresif
Rasional
Hipotensi
dan vertigo yang terjadi umumnya muncul pada awal ambulasi. Rasa nyeri
intervensi aktual atau yang diantisipasi dari jalur intravena (IV) dan kateter
urinary dapat mengejutkan atau membingungkan klien sehingga mengakibatkan
keenganan untuk bergerak.
5. Diagnosa V
a.
Tujuan : Perubahan pola eliminasi tidak terjadi (normal)
b.
Kriteria hasil : mengungkapkan frekuensi BAB dan BAK normal, bau dan warna
normal, tidak ada kelainan setelah pengangkatan kateter
c.
Intervensi :
1
Anjurkan berkemih setiap 4-6 jam bila mungkin
Rasional
Oliguri
(haluaran kurang dari 30 ml/jam) mungkin disebabkan oleh kelebihan kehilangan cairan,
ketidakadekuatan penggantian cairan, atau efek-efek antidiuretik dari infus
oksitosin.
2
Berikan teknik untuk mendorong berkemih sesuai kebutuhan
Rasional
Klien
harus berkemih dalam 6-8 jam setelah pengangkatan kateter. Masih mungkin
mengalami kesulitan pengosongan kandung kemih secara lengkap.
3
Jelaskan prosedur perawatan perineal
Rasional
Membantu
klien untuk mandiri dalam merawat diri
4
Palpasi abdomen bawah
Rasional
Aliran
plasma ginjal tetap tinggi pada peningkatan pengisian kandung kemih. Distensi
kandung kemih dapat dikaji dengan derajat perubahan posisi uterus ; menyebabkan
peningkatan relaksasi uterus dan aliran lochia
5
Anjurkan ibu untuk ambulasi sesuai toleransi
Rasional
Dengan
ambulasi dapat membantu kontraksi usus dengan baik yang mempengaruhi pola
eliminasi.
6 Pantau
masukan dan haluaran sampai mengeluarkan secara adekuat
d. Pelaksanaan
Pada
tahap ini dilakukan pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah
ditentukan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal.
Pelaksanaan adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang
telah disusun pada tahap perencanaan. (Effendy 1995).
e. Evaluasi
Tahap
penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana
tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan dilakukan dengan
cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya
Penilaian
dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam melaksanakan rencana kegiatan klien secara
optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan
Penilaian
keperawatan adalah mengukur keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan
perawatan yang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan klien (Effendy 1995).
Evaluasi
dapat berupa : masalah teratasi dan masalah teratasi sebagian